Egrek, Dodos, dan Romantika Menjadi Anak Sawit yang Tak Pernah Masuk FYP, tetapi Selalu Layak Diceritakan

 

Kalau disuruh menebak pekerjaan orang tua dari unggahan media sosial anak-anak muda hari ini, mungkin jawabannya tidak akan jauh-jauh dari pegawai startup, ASN, barista, atau pekerja kantoran yang setiap pagi mengunggah foto kopi dan laptop. Jarang sekali ada yang dengan bangga berkata, "Ayah saya petani sawit." Bukan karena malu, tetapi karena kehidupan di kebun sawit memang tidak pernah dianggap cukup estetik untuk dijadikan konten. Mana ada video viral yang memperlihatkan orang mengasah dodos sebelum subuh atau mengangkat tandan sawit seberat hampir tiga puluh kilogram sambil berkeringat di bawah terik matahari?


Padahal, bagi kami yang lahir dan besar di lingkungan perkebunan, egrek dan dodos bukan sekadar alat panen. Keduanya adalah simbol kerja keras, saksi bisu perjuangan orang tua, sekaligus benda yang diam-diam ikut mengantar banyak anak kampung mengenyam pendidikan. Saya termasuk anak yang tumbuh bersama suara tandan sawit yang jatuh, bukan suara notifikasi media sosial.


Saya lahir dan besar di lingkungan perkebunan sawit. Sejak kecil, telinga saya sudah akrab dengan percakapan tentang panen, pupuk, harga tandan yang naik-turun, hingga musim hujan yang membuat jalan kebun berubah menjadi kubangan lumpur. Di kampung, anak-anak mungkin tidak langsung mengenal lagu dan penyanyi di aplikasi Spotify, tetapi mereka tahu perbedaan antara egrek dan dodos terlebih dahulu.


Bagi yang belum tahu, dodos adalah alat panen berupa batang besi pendek dengan mata pisau melengkung yang digunakan untuk memotong tandan sawit yang masih rendah. Ketika pohon semakin tinggi dan dodos tak lagi menjangkau buahnya, giliran egrek mengambil peran. Alat ini memiliki gagang yang jauh lebih panjang dengan mata pisau melengkung di ujungnya. Keduanya mungkin hanya terlihat seperti besi biasa. Namun, bagi keluarga petani sawit, dua alat itulah yang menjadi jalan datangnya rezeki.


Petani sawit juga memiliki “lawan” yang berbeda dengan petani padi di sawah. Jika petani sawah harus bergelut dengan hama walang sangit, wereng, atau tikus, petani sawit lebih sering berhadapan dengan pelepah berduri yang menusuk telapak tangan, tandan buah yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram, serta jalan kebun yang berubah menjadi kubangan lumpur ketika hujan turun. Belum lagi ancaman sarang tawon yang bisa menggigit tanpa permisi, hingga ular yang sesekali bersembunyi di balik tumpukan pelepah.


Pernah sekali saya memanen sawit yang ada di lahan milik pondok pesantren. Kala itu, saya masih santri tingkat SMA yang memang rutin memanen sawit, walaupun terhitung masih pemula dan belum mengetahui trik yang tepat dalam memanen sawit. Ketika guyuran hujan membasahi perkebunan sawit, teman-teman saya memilih untuk berteduh menunggu hujan reda. Namun, naifnya diri ini memilih melanjutkan memanen sawit dengan egrek berada di pundak.


Barangkali karena masih belajar, saya merasa hujan bukanlah masalah besar. Yang ada di kepala saya saat itu hanya satu: "Ah, paling juga basah. Namanya juga kerja di kebun." Saya pun mencari pohon berikutnya yang tingginya cukup membuat leher pegal jika terlalu lama didongakkan. Egrek saya kaitkan ke pangkal tandan, lalu mulai menariknya pelan-pelan sambil terus menatap ke atas.


Nah, di sinilah letak kebodohan saya yang baru saya sadari belakangan.


Karena terus mendongak, air hujan yang turun dari langit bercampur dengan air yang menggenang di sela-sela pelepah langsung menetes ke muka. Belum lagi setiap kali mata egrek menggesek pelepah, serbuk halusnya ikut beterbangan. Kombinasi keduanya sukses masuk ke mata saya. Rasanya perih bukan main. Mata refleks terpejam, tapi tangan masih saja menggenggam egrek. Mungkin waktu itu saya terlalu gengsi untuk berhenti setelah teman-teman lebih dulu berteduh.


Dalam keadaan mata setengah terpejam, saya hanya mendengar suara yang sangat akrab bagi orang kebun: "krek..." disusul "brukkk!". Biasanya suara itu membuat senang karena tandan berhasil dipanen. Masalahnya, kali ini yang jatuh bukan hanya tandannya. Pelepahnya ikut nimbrung. Saya yang pandangannya masih buyar tidak sempat menghindar. Pelepah menghantam badan lebih dulu, lalu tandan sawit ikut menyerempet saya. Seketika badan saya oleng dan langsung nyungsep ke tanah yang sudah berubah jadi arena seluncur lumpur.


Untungnya, pemuda jompo ini masih memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Walaupun terpental agak jauh dan menerima puluhan tusukan duri sawit pada lengan hingga bahu, saya masih bisa melanjutkan memanen sawit. Hanya saja, badan terasa pegal-pegal dan harga diri sedikit memar. Xixixi.


Kalau cerita egrek mengajarkan saya untuk tidak sok kuat saat hujan, maka pengalaman menggunakan dodos mengajarkan hal yang berbeda: jangan pernah meremehkan beratnya tandan sawit. Sebab, waktu pertama kali memegang dodos, saya sempat berpikir pekerjaan ini lebih mudah daripada menggunakan egrek. Pohonnya pendek, tidak perlu mendongak sampai leher kram, dan tidak perlu khawatir pelepah jatuh dari ketinggian belasan meter. Saya salah besar.


Pada pohon-pohon yang masih rendah, tandan sawit dan pelepahnya memang sering berada tepat di depan mata. Sekilas terlihat lebih mudah dipanen daripada pohon yang tinggi. Nyatanya, tantangannya hanya berganti bentuk. Salah satunya adalah jumlah pelepah yang masih sangat rimbun. Sering kali tandan sawit "ngumpet" di balik pelepah-pelepah itu, sehingga sebelum buahnya dipanen, pelepahnya harus disingkirkan satu per satu. Yang bikin gemas, setelah capek-capek membuka jalan, ternyata tandannya masih kecil. Sudah pelepahnya banyak, buahnya belum seberapa. Rasanya seperti membuka banyak lapisan bungkus hadiah, tetapi isi di dalamnya hanya gantungan kunci.


Belum lagi teknik menggunakan dodos yang ternyata jauh dari kata sederhana. Banyak orang mengira tinggal mengayunkan mata pisaunya ke pangkal tandan, lalu selesai. Padahal, dodos menuntut perpaduan tenaga, posisi tubuh, dan timing yang pas. Ayunannya tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan lengan. Pinggang, bahu, hingga hentakan badan harus bergerak hampir bersamaan agar mata dodos menghujam tepat di pangkal tandan. Kalau ayunannya ragu-ragu, yang putus justru tenaga kita. Kalau terlalu bersemangat tetapi meleset sedikit saja, dodos hanya akan menghantam pelepah tanpa berhasil memutus tandan. 


Pernah suatu ketika saya terlalu semangat mengayunkan dodos ke pangkal tandan. Sekali tebas, tandan memang berhasil putus. Masalahnya, saya lupa memperkirakan ke mana arah jatuhnya. Alih-alih jatuh ke samping, tandan itu meluncur lurus ke arah saya. Refleks saya langsung meloncat ke belakang seperti pemain sepak bola yang menghindari tekel keras. Bedanya, pemain bola mendapat tepuk tangan penonton, sedangkan saya malah mendapat tawa teman-teman yang melihat kejadian itu dari kejauhan.


Sejak saat itu saya mulai paham bahwa memanen sawit bukan sekadar soal tenaga. Ada seni membaca posisi tandan, arah rebah pelepah, hingga tempat berdiri yang aman sebelum mengayunkan dodos.


Hal lain yang membuat saya kagum adalah kemampuan para petani dalam mengayunkan dodos. Dari jauh kelihatannya sederhana, hanya menebas pangkal tandan. Namun ketika mencoba sendiri, saya baru sadar bahwa ayunan yang terlalu lemah tidak akan memutus tandan, sedangkan ayunan yang terlalu keras justru membuat tenaga cepat habis. Ada ritme yang harus dipelajari, dan ritme itu biasanya tidak didapat dari buku panduan, melainkan dari lecet di telapak tangan dan pegal di bahu setelah seharian bekerja.


Mungkin kehidupan anak sawit memang tidak akan pernah masuk FYP. Tidak cukup estetik untuk dijadikan konten, tidak cukup romantis untuk dijadikan latar foto Instagram. Namun, saya percaya tidak semua cerita hebat harus viral. Sebab di balik setiap ayunan egrek dan hentakan dodos, ada keluarga yang bertahan hidup, ada anak-anak yang bisa terus bersekolah, dan ada mimpi-mimpi yang pelan-pelan tumbuh setinggi pohon sawit itu sendiri.  


Penulis: M. Khoirun Nazmi

Kurator: Alfiyah Nur Kamilah

Editor: Anis Nurhidayah




Post a Comment

Previous Post Next Post