Celana Dalam

 



Tak ada yang bisa memilih untuk terlahir sebagai siapa atau apa. Setidaknya, itu kata tuan yang memakai saya selama kurang lebih tiga tahun. Menurutnya, kita mesti pandai-pandai bersyukur sudah diciptakan sebagai manusia yang bisa berpikir.

Nah, itu kan manusia?! Bagaimana dengan celana dalam seperti saya ini?

***

Kalau bisa memilih, saya tak pernah ingin menjadi celana dalam. Karena selain dianggap tidak bisa berpikir, rasa-rasanya hidup saya selalu berada di tempat yang sama, yaitu selangkangan. Dulu, ketika saya masih menjadi pajangan di sebuah etalase toko, setiap hari dapat saya lihat orang berlalu-lalang. Memang bukan toko besar, namun saya melihat berbagai macam kalangan dapat menjangkau barang-barang yang ada di toko ini. Bukan hanya orang kaya saja yang bisa memasukinya, seperti toko sebelah. 

Saya mendapat posisi yang sedikit lebih tinggi daripada celana dalam pria yang lain. Itulah mengapa saya bisa dengan leluasa melihat seisi toko. Saya tebak, ini adalah toko yang khusus menjual pakaian. Pasalnya, dari ujung ke ujung, yang bisa saya lihat hanya baju, celana, baju, celana, dan baju lagi, dan celana lagi. Menyenangkan sekali bisa melihat berbagai macam kehidupan dari tempat setinggi ini. Maklum saja, saya ini celana dalam mahal. Wajar jika dapat tempat lebih tinggi supaya tidak sembarang dijamah tangan manusia.

Kendati saat itu saya selalu berada di satu tempat yang sama, ada banyak hal yang dapat saya saksikan dan jadikan pelajaran hidup. Jangan salah, celana dalam seperti saya ini juga suka mencari pelajaran hidup, guna persiapan pemakaian selamanya. Saudara kira, hanya manusia yang butuh persiapan sebelum memulai sesuatu? Kalau saudara berpikir seperti itu, saran saya saudara harus lebih banyak membaca cerita.

Akan tetapi, pelajaran hidup yang saya dapatkan sebelum terjual, rupanya tidak berpengaruh banyak pada kondisi diri saya. Sampai saat ini, saya masih saja merasa kesal pada tuan yang hanya mengistirahatkan saya selama dua setengah hari. Apa dikiranya saya tidak merasa sesak berada di bawah ini? Saya tahu, fitrah menjadi celana dalam memang sudah seharusnya menjadi sangkar yang melingkar di selangkangan. Tetapi, mbok yo jangan lupa juga untuk merawat saya. Empat hari setengah, Saudara! Bayangkan Anda bekerja nonstop selama itu! Pasti akan lelah juga, bukan?

Saya ingat bagaimana pertama kali tuan menyentuh saya di etalase toko. Sebagaimana perkenalan pertama pada umumnya, saya merasa malu saat calon tuan ini memandang saya lekat-lekat. Sepertinya, ia tertarik dengan warna biru tua pada diri saya yang amat montok ini. Dijelajahinya saya hingga ke sudut yang paling kecil, mungkin untuk memastikan apakah saya memang pantas dibanderol dengan harga yang cukup mahal.

Sepertinya, tuan saya ini bukan benar-benar orang kaya. Karena jika benar, tentu ia tak perlu pikir panjang untuk membeli saya. Toh, celana dalam mahal di toko ini hanya ada beberapa helai, tak sampai hitungan jari, termasuk saya. Kalau mau, tuan saya waktu itu bisa saja pergi ke toko sebelah yang memang menyediakan tempat khusus celana dalam mahal. Namun kenyataannya, harta kekayaan tuan tidak begitu melimpah, sehingga ia memilih untuk masuk ke toko ini dan membeli celana dalam mahal supaya terlihat keren oleh orang lain. 

Tentunya saat itu saya masih menjadi celana dalam yang polos dan naif. Saya girang saja ketika akhirnya ada yang mau membeli saya. Siapa juga yang mau berlama-lama menjadi pajangan tanpa bisa memberi manfaat? Bahkan, manusia seperti saudara saja, pasti ingin hidupnya juga bermanfaat bagi orang lain.

Sepanjang perjalanan pulang itu, saya tak henti-hentinya tersenyum. Kendati terbungkus oleh kantong plastik putih dengan sablon warna-warni, saya sudah bisa membayangkan bagaimana keadaan di luar sana. Tuan baru saya ini mengendarai sepeda motor, tentu saja. Saya mengetahuinya dari embusan angin yang beberapa kali menerpa dan membuat kantong pembungkus saya bergelantungan. Ini pasti stang motor bagian kiri. 

Sesampainya di rumah, saya dikeluarkan dari kantong putih tersebut dengan hati-hati, seolah tuan takut saya akan tersinggung jika disentak terlalu kasar. Ia membuka plastik saya perlahan, membentangkan tubuh saya di atas kasur, lalu menatap beberapa detik sebelum akhirnya menyimpan saya di laci paling atas. Di sana sudah ada beberapa celana dalam lain, warnanya kusam dan karet pinggangnya kendur. Mereka menyambut saya dengan diam. Barangkali sudah terlalu lelah dipakai dalam jangka waktu lama hingga merasa enggan untuk sekadar bertanya siapa saya.

Keesokan paginya, tuan memilih saya tanpa ragu. Tangannya sempat berhenti sejenak di atas tumpukan celana dalam lama, lalu beralih pada saya, seperti orang yang memilih harapan baru setelah lelah berkutat dengan yang lama. Saya dipakai untuk pertama kalinya dengan agak kikuk. Ia menarik karet saya terlalu hati-hati, memastikan saya tidak robek, tidak kendur, tidak tersakiti.

Sekejap, ia memandang dirinya di depan cermin, merasa keren karena menggunakan celana dalam baru dengan harga yang tinggi. Saya senang sekali bisa menjadi alasan bagi tuan untuk tersenyum. Ya, mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk sekadar membeli celana dalam baru adalah alasan yang logis untuk berbangga diri, menurut keyakinan saya, sih. 

Waktu itu saya amat senang bisa menunaikan tugas sebagai celana dalam. Hubungan saya dengan tuan menjadi lebih dekat. Saudara tak perlu heran, itu karena saya adalah celana dalam termahal di antara celana dalam lainnya yang dimiliki oleh tuan saya. Tentu saja tuan akan memilih celana dalam ternyaman untuk selangkangannya, bukan? 

Saking dekatnya dengan tuan, saya jadi tahu kalau ia sebenarnya masih jomblo. Iya, Saudara! Pantas saja, setiap kali saya dengar tuan berbicara dengan seorang perempuan, si kecil yang terperangkap oleh bekap tubuh saya terasa berdenyut. Saya juga bisa merasakan keringat yang mengalir di sekujur selangkangan tuan, pertanda bahwa ia sedang gugup. Kalau tidak sedang jomblo, hal tersebut hampir pasti tidak akan terjadi. Aduh, kasihan sekali tuan saya ini.

Akan tetapi, rasa senang itu tidak bertahan hingga satu bulan. Itu karena tuan tidak sekalipun berinisiatif menggantikan tugas saya dengan rekan-rekan lainnya yang lebih senior. 

Sejujurnya, saya tidak pernah kesal jika tuan mau menggunakan saya seharian penuh. Jika dengan memakai saya tuan merasa nyaman, apa masalahnya? Tetapi, yang saya tak habis pikir adalah, tuan tidak mencuci saya setelah dipakai seharian. Lebih mengerikan lagi, ia memakai saya di hari selanjutnya tanpa sekalipun mempertimbangkan perasaan celana dalam malang ini. Saya baru dicucinya setelah lewat hari ke empat pemakaian, yang berarti lebih dari 96 jam nonstop! 

Saat saya istirahat, dengan waktu yang cuma dua hari setengah pun, tuan tidak mengambil rekan-rekan senior saya sebagai ganti. Semuanya masih lengkap ada di lemari. Lantas, apa dia tidak menggunakan celana dalam? Ah, mengerikan sekali! Kasihan si kecil di bawah sana harus tergesek sana-sini oleh kain celana bertekstur kasar milik tuan. Ia pasti mendapati banyak sisinya yang tergores. Saya semakin kesal pada tuan yang, bukan hanya tidak memperhatikan kesehatan saya, tetapi juga dirinya sendiri.

***

Kini sudah berlalu tiga tahun sejak saya dipinang oleh tuan di sebuah etalase toko pakaian. Biru tubuh saya sudah tidak semontok saat pertama kali dipakai. Mungkin, jika saudara kebetulan sedang bermain ke rumah tuan saya, dan kebetulan saya tengah di jemur di halaman belakang, saudara akan mengira bahwa saya berwarna biru muda. Padahal sebetulnya, saya sudah luntur, seluntur-lunturnya. 

Bukan hanya itu, beberapa bagian tubuh saya pun sudah sobek. Bagian paling parah dapat ditemukan pada karet saya, yang pada akhirnya sering ditarik paksa oleh tuan, tidak seperti waktu pertama kali saya dipakai. 

Tetapi, yang tak kalah kasihan adalah si kecil yang kena imbas sobekan tubuh saya. Beberapa kali ia lolos melalui lubang yang menganga di wajah saya. Akibatnya, dengan mata kepala sendiri saya lihat ia sering tergores celana jeans kasar yang dipakai tuan. Kasihan sekali, seolah tak ada gunanya tuan memakai saya. 

Waktu dua hari setengah untuk saya istirahat sudah berlalu. Saya harus bersiap-siap akan dipakai lagi oleh tuan. Berat memang. Tapi, mau bagaimana lagi, saya hanya selembar celana dalam yang tak bisa protes, hanya bisa bercerita pada saudara. Itupun kalau saudara mau bersimpati pada saya.

Saya menunggu dengan was-was. Tetapi, tuan tak kunjung membuka lemari dan mencomot saya. Kemanakah dia? Tak mungkin kalau tuan lupa, karena selama tiga tahun ini saya tak pernah alpa digunakannya.

Hingga tiba-tiba pintu lemari dibuka. Sambil tetap menutup mata, saya sudah merasa siap diambil secara paksa, lagi. Tetapi, tangan Tuan tak kunjung menjamah tubuh saya. Akhirnya, saya mencoba untuk membuka mata perlahan-lahan. 

Setelah terbuka sempurna, barulah saya mengerti apa yang terjadi. Tuan meletakkan celana dalam baru di tumpukan paling atas. Ia amat terlihat gagah dengan warna hitamnya. Tuan kembali menutup lemari, tanpa mengambil saya untuk dipakai. Apakah ini berarti tugas saya sudah tuntas sepenuhnya?

Saya sempat merasa lega. Akhirnya, tugas saya selesai juga. Saya bisa beristirahat lebih lama dari dua setengah hari. Saya bisa dibiarkan luntur dan sobek tanpa perlu menanggung apa pun lagi.

Di sisi lain, saya juga merasa simpati pada celana dalam baru itu. Ia tampak begitu bahagia karena akan segera dipakai oleh tuan barunya. Ia hanya belum tahu, bahwa menjadi celana dalam tak semenyenangkan yang dikira. Setiap celana dalam tampaknya harus mengalami sendiri bagaimana rasanya menanggung beban tanpa bisa mengungkapkannya kepada siapa pun. Tentu saja itu bukan hal yang mudah.

Biarlah, baiknya saya tak usah berbicara apa-apa padanya, daripada saya membuatnya ciut duluan. Biar ia mencari jati dirinya sendiri. Lagi pula, diam adalah satu-satunya hal yang sejak awal diharapkan dari celana dalam seperti saya. Penulis: Ahmad Dani Fauzan

Post a Comment

Previous Post Next Post