Back to Strangers

 


Yuda menahan napasnya, lalu mengerjapkan mata beberapa kali seolah apa yang terjadi padanya hanyalah mimpi. Ia amat yakin bahwa beberapa menit lalu dirinya merasakan sekarat yang begitu menyakitkan. Namun, kini lelaki tersebut tengah duduk di sebuah kafe yang begitu ia kenali, furnitur yang tak ada bedanya dalam ingatannya. Semuanya tidak ada bedanya, pun dengan para barista dan pelayan kasir. Lantas, pandangannya bergerak pelan ke arah seorang gadis di belakang counter. Dia pun tidak ada bedanya.

Apakah kematianku hanyalah mimpi? Atau ini semua ulah Takdir?

***

Ia menghela napas yang tertahan dan memijat pangkal hidungnya perlahan. Apa yang terjadi padanya masih menjadi misteri yang tak bisa dipikirkan secara logika. Bagaimana bisa dirinya yang sudah sekarat bisa berada di sini tanpa ada luka maupun rasa sakit? Terutama, kenapa Yuda bisa terlempar saat pertemuan pertama dengan kekasihnya? Ada banyak tanya kenapa dan apa di kepalanya. Gelas berisi kopi di hadapan Yuda yang perlahan mulai mendingin pun bukan perkara di pikirannya sekarang.

“Kamu enggak apa-apa?”

Suara yang amat dikenal oleh Yuda membuat seluruh saraf dalam tubuhnya menegang. Butuh beberapa detik sebelum Yuda mampu menolehkan kepalanya untuk menatap pada sumber suara. Jantungnya mencelus, begitu besar rasa ingin memeluk gadis di hadapannya kini. Namun, ia merasa bahwa gadis itu tidak mungkin mengenalnya sama sekali. Jika ditanya kenapa Yuda begitu yakin dia terlempar ke hari pertemuan pertama mereka, maka jawaban yang akan Yuda katakan adalah “karena pertemuan pertama selalu menjadi kenangan terindah”.

Lelaki dengan rambut cokelat kehitaman itu mencoba mengulas sebuah senyum kecil. Ia yakin senyumnya terlihat kaku saat menatap pada gadisnya yang tampak tak puas dengan jawaban kecil itu. 

Yuda berdeham pelan, mencoba menyiapkan suaranya agar tidak terdengar parau, “semuanya oke, makasih.” Ia kembali mengulas senyum sembari mengangguk pelan. Si gadis yang tampak merasa lega menyunggingkan senyuman manis bagi Yuda, lalu melenggang pergi.

Usapan pada wajah sedikit membuat Yuda mampu menghela napas walau rasanya beban di kepalanya tak juga luruh.

Semesta dan Takdir seolah bercanda dengannya.

***

“Jika Takdir menyuguhkan pertanyaan, maka aku dengan senang hati menjawab akan memilih kamu, ratusan kali pun, meski harus kembali menjadi dua orang yang tak saling mengenal.”

Yuda tersentak, sepertinya ia terlelap setelah tak sengaja menyandarkan kepalanya pada kedua lengan yang dilipat di atas meja. Ia lelah usai memikirkan apa maksud kebangkitan yang keduanya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, suasana kafe hampir sunyi. Ah, dia tertidur terlalu lama sampai-sampai kafe ini sudah hampir tutup.

“Kamu beneran enggak apa-apa?” Suara gadisnya kembali terdengar dari belakang tubuhnya. 

Yuda menoleh, tubuhnya tidak merespons dengan kaku lagi. Ia sudah terbiasa, mungkin tak perlu memikirkannya terlalu dalam. Ikuti alur Sang Takdir, boleh jadi ini adalah doa terakhir saat kematiannya tengah menjemput. Boleh jadi Takdir memang menanyakan satu pertanyaan dan Yuda menjawabnya tanpa rasa berat hati. Boleh jadi ini adalah kesempatan keduanya. Kesempatan kedua untuk mencintai gadisnya dengan benar.

“Aku Yuda.” Lelaki dengan wajah bantal itu mengulurkan tangannya. “Aku enggak apa-apa, cuma kecapekan saja. Boleh kenalan?” 

Dan demi Takdir yang telah memperbolehkan Yuda mengulang saat ini lagi, ia menggumam terima kasih akan sesuatu yang tak nyata ketika gadis tersebut menyambut tangannya dan menyebutkan nama. Tanpa perlu diberitahu pun Yuda sudah hapal, seperti doa yang tak pernah lelah dilantunkan oleh bibirnya, ia terus melafalkan nama gadisnya di setiap helaan napas.


Penulis: Frida Nur Wiranti
Editor: Zanneta Rahma Aulia
Kurator: Fiya

Post a Comment

Previous Post Next Post