Menggugat Realitas Bernegara: Kemerdekaan, Keadilan dan Pancasila Tahun 2026 "Menggugat Makna Kemerdekaan"






Putri, G. A. (2026). Paradoks Pertumbuhan Ekonomi dan Dinamika Pemulihan Kemiskinan: Analisis Empiris di Indonesia Pasca-Krisis. Salam (Islamic Economics Journal) , 7(1), 56-71.


Perayaan HUT Republik Indonesia yang diadakan setiap tanggal 17 Agustus selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan kita di masa silam. Baru-baru ini, pemerintah Indonesia meluncurkan logo resmi HUT ke-81 RI dengan tagline 'Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur'. Namun, perlu kita pertanyakan kembali, tagline Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur ini sebetulnya diperuntukkan bagi siapa? Apakah tagline kemerdekaan itu benar-benar memiliki maksud yang mulia atas keadaan masyarakat Indonesia saat ini? 


Mari kita telisik bersama keadaan dari sektor ekonomi Indonesia saat ini. Tingkat inflasi pada bulan Juni 2026 yang dilaporkan oleh BPS naik 0,44 persen dibanding bulan Mei, dan naik 3,34 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Fenomena ini dijelaskan oleh Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, bahwa sebagian besar penyebab kenaikan inflasi dipicu oleh penyesuaian harga pasokan yang diteruskan kepada konsumen, seiring dengan peningkatan biaya impor yang juga naik akibat depresiasi rupiah. Selain kenaikan harga pasokan impor, masyarakat juga masih harus menanggung beban dari kenaikan suku bunga acuan, yang membuat harga cicilan KPR ikut naik, memperparah kondisi keuangan rumah tangga. Persoalannya adalah di saat biaya hidup meningkat apakah pendapatan masyarakat juga ikut meningkat? 


Faktanya, tren pertumbuhan upah riil justru dilaporkan cenderung terus menurun setelah pandemi Covid-19 usai. Mandiri Institute melakukan riset per tahun 2025 yang menyebutkan bahwa tren upah riil turun hingga mencapai -0,37 persen di tengah pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen. Berdasarkan data ini, dapat disimpulkan bahwa daya beli masyarakat belum cukup stabil di tengah kenaikan harga pasokan. Pertumbuhan ekonomi yang dialami Indonesia tidak sebanding dengan pertumbuhan upah yang diterima masyarakat. Berdasarkan penelitian terhadap data 34 provinsi di Indonesia selama 2020–2024, pertumbuhan ekonomi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan kemiskinan (Putri, 2026). Manfaat pertumbuhan justru lebih banyak dirasakan oleh kelompok menengah ke atas dan wilayah tertentu, sementara masyarakat miskin belum merasakan dampak yang berarti. 


Seakan memperparah keadaan, rakyat Indonesia juga masih saja dihantui oleh badai PHK yang mengancam akibat efisiensi yang juga disebabkan oleh kenaikan harga bahan impor. Dari data terbaru yang dilaporkan oleh Kemnaker, pada periode Januari–April 2026 jumlah PHK di Indonesia telah mencapai 15.425 orang. Angka ini melonjak sebanyak 84% jika dibandingkan periode Januari–Maret di tahun yang sama, menunjukkan bahwa kondisi ketenagakerjaan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, data terbaru Sakernas BPS per Mei 2026 menyebutkan bahwa terdapat 1,03 juta sarjana yang menganggur dan jumlah tersebut setara dengan 14,31 % dari total 7,22 juta pengangguran nasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa gelar pendidikan tinggi saja pun tidak bisa menjamin seseorang mendapatkan penghidupan yang layak di negeri ini.


Sejarah Indonesia sendiri menunjukkan bahwa perjuangan setelah Proklamasi tidak berhenti pada pengakuan kedaulatan, melainkan harus berlanjut pada perjuangan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Jika kita kembali melihat bagaimana peristiwa Indonesia merdeka pada tahun 1945, pendahulu kita seperti Ir. Soekarno dengan lantang mengatakan bahwa Indonesia dapat dikatakan merdeka ketika mampu melepaskan diri dari belenggu kolonialisme dan imperialisme. Sedangkan realita yang kita hadapi pada HUT ke-81 RI ini justru sebaliknya, tidak benar-benar adil dan juga sejahtera. Belenggu masa lalu dalam kolonialisme dan imperialisme kini berganti dengan belenggu oligarki yang tidak terkendali. Rakyat masih tidak terbebas dari rasa takut kehilangan pekerjaan, dari mahalnya kebutuhan hidup, dan dari ketimpangan ekonomi yang semakin membatasi ruang untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera.

 

Persoalan kemerdekaan Indonesia ini bukan lagi tentang siapa yang menguasai wilayah kita, melainkan tentang siapa yang masih menentukan batas-batas kehidupan kita. Muncul beberapa pertanyaan refleksi pada benak kita sebagai masyarakat dalam memaknai kata “merdeka”. Apakah seseorang benar-benar dikatakan merdeka jika penghasilannya tidak mampu mengejar kenaikan harga kebutuhannya sehari-hari? Apakah buruh benar-benar merasa aman jika pekerjaannya bisa hilang karena keputusan perusahaan? Dan apakah sebuah bangsa bisa disebut makmur jika pertumbuhan ekonomi belum membuat upah rakyat ikut meningkat? Jika pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban yang meyakinkan, maka makna “kemerdekaan” Indonesia hanya menjadi ajang seremonial bagi penguasa dan masih menjadi suatu tugas pemerintah yang belum benar-benar bisa dicapai.



DAFTAR RUJUKAN:

Mediana, Caecilia. (2026, 7 Januari). Risiko PHK dan Pengangguran Usia Muda Berpotensi Meluas Tahun 2026. Kompas.id. Diakses tanggal 3 Agustus 2026, dari https://www.kompas.id/artikel/potensi-risiko-indonesia-pada-2026-isu-phk-dan-pengangguran-usia-muda-yang-meluas?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic 


Mediana, Caecilia. (2026, 7 Januari). Sarjana Pengangguran Tembus 1 Juta, Persoalan Lama Berulang. Kompas.id. Diakses tanggal 14 Agustus 2026, dari https://www.kompas.id/artikel/persoalan-sarjana-menganggur-terus-berulang?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic


PHK Naik 84%, Ini 10 Provinsi dengan Angka PHK Tertinggi di Indonesia 2026. (2026, 21 Mei). BAK UNAS. Diakses tanggal 5 Agustus 2026, dari https://bak.unas.ac.id/2026/05/21/phk-naik-84-ini-10-provinsi-dengan-angka-phk-tertinggi-di-indonesia-2026/ 


Primantoro, Yoga Agustinus. (2026, 1 Juli). Beban Hidup yang Dipikul Masyarakat Kian Berat. Kompas.id. Diakses tanggal 4 Agustus 2026, dari https://www.kompas.id/artikel/beban-hidup-yang-dipikul-masyarakat-kian-berat?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic



Penulis: Yoga Parulian Panggabean, Retno Wulan Andari, Fathur Rosi, Amrina Rosyada


Post a Comment

Previous Post Next Post